Phaeophyta: Ordo Laminariales dan Fucales

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Tumbuhan adalah organisme yang dicirikan dengan adanya dinding sel, pigmen fotosintetik dan sifat autotrofik serta immobil.  Secara garis besar, tumbuhan dibedakan menjadi tumbuhan tingkat rendah dan tumbuhan tingkat tinggi. Pembagian ini tidak mengacu secara spesifik kepada struktur tubuh dari tumbuhan tersebut, tetapi lebih mengacu pada perkembangbiakan ataureproduksinya. Tumbuhan tingkat rendah memiliki  organ dan cara perkembangbiakan yang lebih sederhana bila dibandingkan dengan pada tumbuhan tingkat tinggi.

Dalam tumbuhan tingkat rendah, kita mengenal kelompok Thalophyta yang mencakup Algae (ganggang). Thallopyta merupakan tumbuhan bertalus atau tumbuhan yang belum dapat dibedakan secara jelas antara akar, batang, dan daun. Secara umum, kita memandang keseluruhan tubuhnya sebagai talus.

Algae merupakan tumbuhan akuatik yang menghuni habitat air. Dalam system pengklasifikasian, Pembagian Algae dalam kelas-kelas tertentu didasarkan pada jenis pigmen  warna yang dikandungnya, sehingga kita dapat mengenal istilah |Chlorophyta (ganggang hijau), Rhodophyta (Ganggang merah), Phaeophyta (ganggang coklat) dan sebagainya. Dalam makalah ini, ruang lingkup pembahasan kami batasi pada kelas Phaeophyta, yakni pada Ordo Laminariales dan Fucales.

Laminariales dan Fucales adalah dua ordo dalam kelas Phaeophyta yang umum dikenal. Bahkan beberapa spesies dari kedua ordo ini memberikan peranan positif dalam kehidupan, baik terhadap ekosistem secara umum, maupun bagi kehidupan manusia.

Berdasarkan uraian tersebut, maka dianggap perlu untuk menyusun makalah mengenai ordo Laminariales dan Fucales. Makalah ini diharapkan dapat menjadi tambahan pengetahuan mengenai kedua ordo tersebut sehingga diharapkan mahasiswa dapat mendeskripsikan kedua ordo tersebut secara jelas.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut, maka permasalahan yang akan dikaji dalam makalah in makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

1.      Bagaimana ciri-ciri umum dari ordo Laminariales dan Fucales ?

2.      Bagaimana cara reproduksi pada ordo  Laminariales dan Fucales?

3.      Bagaimana pengklasifikasian dari ordo Laminariales dan Fucales?

4.      Apa contoh spesies dari ordo Laminariales dan Fucales?

 

C. Tujuan

Tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.

1.      Untuk mengetahui cirri-ciri umum dari ordo Laminariales dan Fucales

2.      Untuk mengetahui reproduksi pada ordo  Laminariales dan Fucales.

3.      Untuk mengetahui pengklasifikasian dari ordo Laminariales dan Fucales.

4.      Untuk mengetahui contoh spesies dari ordo Laminariales dan Fucales.

 

D. Manfaat

Manfaat yang dapat dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.

1.      Mahasiswa dapat mendeskripsikan ordo Laminariales dan Fucales, baik dari segi ciri umum, reproduksi, klasifikasi, maupun contoh spesiesnya.

2.      Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh nilai mata kuliah Botani Tumbuhan Rendah

 

 

BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN

A. Ordo Laminariales

1. Ciri-ciri Umum

 

Laminariales adalah salah satu diantara tiga belas ordo dalam divisi Phaeophyta. Ciri-ciri umum dari ordo ini adalah sebagai berikut.

a.       Habitat umumnya pada lautan beriklim dingin

b.      Sporofit yang dapat dibagi menjadi alat pelekat, tangkai dan helaian atau lembaran.

c.       Pertumbuhan terjadi pada bagian yang meristematik yang letaknya interkalar dan biasanya terletak diantara tangkai dan lembaran.

d.      Sporofit mempunyai sporangia yang unilokuter dan terkumpul dalam suatu sorus pada permukaan lembaran.

e.       Gametofit dari laminariales berupa filamen yang mikroskopik dan bersifat diesius.

f.       Perkembangbiakan seksual bersifat oogamik.

2. Reproduksi

Reproduksi seksual pada Laminariales dilakukan secara oogami. Oogami adalah suatu bentuk perkembangbiakan dimana gamet jantan dan betina memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda dengan gamet jantan yang aktif. Laminariale memiliki gametifit yang diesius.

Pada Laminariales ditemukan adanya pergiliran keturuna yang beraturan. Sporofit yang besar dan bersifat diploid berganti dengan gametofit jantan dan betina yang telah memperlihatkan perbedaan bentuk dan susunan. Gametofit yang dhasilkan tersebut berasal dari zoospore. Gametofit jantan bercabang-cabang lebih banyak, cepat tumbuh dan terdiri atas banyak sel dan pada ujungnya terdapat anteridium yang hanya terdiri atas satu sel, masing-masing mengeluarkan dua spermatozoid yang mempunyai dua bulu cambuk.

Gametofit betina terdiri atassel-sel yang besar, tumbuhnya lambat, tidak mempunyai bamnyak sel dan dalam keadaan luar biasa hanya terdiri atas satu  sel berbentuk pipa dan menghasilkan oogonium yang mempaunyai satu sel saja. Sel telur yang telanjang tersebut keluar dari ujung oogonium dan tetap melekat pada tempat tersebut. Zigot hasil perkawinan tumbuh menjadi sporofit. Pada permukaan sporofit selain terdapat sel-sel mandul juga terdapat sporangium yang menghasilkan banyak zoospore dengan dua bulu cambuk.

3. Klasifikasi

Dalam sistem klasifikasi, Laminariales termasuk dalam divisi Phaeophyta yang hanya memiliki satu kelas, yakni  kelas Phaeophyceae. Phaeophyceae kemudian memiliki tiga belas ordo dan salah satunya adalah ordo Laminariales. Sistematik dari ordo Laminariales bagaimana yang dikemukakan oleh H.C.Bold dan M.J. Wynne (1985) sebagai berikut.

a. Familia Chordaceae

Famili Chordaceae hanya memiliki satu genus, yakni genus Chorda. Tubuh Alga yang termasuk dalam genus Chorda tidak memiliki cabang, berbentuk silinder dan dapat mencapai panjang hingga 8 sampai 12 meter. Chorda hidup di perairan dingin Atlantik utara, pasifik utara, laut Arktik dan laut Bering. Contoh spesies dari family ini adalah Chorda filum.

b. Familia Laminariaceae

Famili ini memiliki sejumlah genus, diantaranya adalah :

1.      Genus Laminaria

Laminaria ditemukan pada perairan litoral hingga sublitoral hingga pantai karang. Contoh Laminaria saccharina

2.      Genus Hedophyllum

Hedeophyllum memiliki daerah penyebaran dari perairan Alaska hingga utara California. Alga ini hidup melekat pada substrat dengan menggunakan haptera. Contoh Hedophyllum sessile

3.      Genus Agarum

Agarum memiliki tulang atau urat median melintang, adanya lubang-lubang pada sisi helaian dan helaian yang tak terbagi membedakan genus ini dengan genus lain dalam family Laminariaceae. Contoh Agarum cribrosum

4.      Genus Costaria

Ciri utama dari Costaria adalah adanya lima buah urat longitudinal pada helaian Alga ini. Contoh Costaria costata

c. Familia Lessoniaceae

Famili Lessoniaceae juga mempunyai sejumlah genus. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

1.      Genus Postelsia

Jika dipandang pada tiap-tiap individu, Postelsia memiliki bentuk yang mirip pohon kelapa. Sejumlah besar helaian yang menyatu pada pangkalnya membentuk haptera yang melekatkan Alga ini pada substrat.

Contoh Postelsia palmaeformis

2.      Genus Nereocystis

Nereoscystis memiliki bentuk yang mirip dengan Laminaria ketika muda. Namun, seiring dengan perkembangannya, terjadi pembagian helaian-helaian dan juga modifikasi tangkai (stipe). Tangkai dapat mencapai panjang hingga 25-30 meter serta memiliki pneumokist pada ujungnya.

Contoh Nereocystis luetkeana

3.      Genus Macrocystis

Macrocystis (Macro = besar; kystis=helaian) merupakan Tumbuhan menahun yang memungkinkan adanya  regenerasi dari stipes tambahan. Dengan demikian akan muncul sejumlah besar lemabaran-lembaran yang berasal dari lembaran tunggal.

Contoh Macrocystis integrifolia

d. Familia Alariaceae

Beberapa genus dari family Alariaceae meliputi :

1.      Genus Alaria

Alaria memiliki semacam tulang daun yang menyolok pada tengah lembara- tubuhnya yang memanjang dari pangkal hingga ujung lembaran. Pada perairan dingin, Alaria dapat membentuk lembaran hingga 25 m panjangnya.

Contoh Alaria esculenta dan Alaria crassifolia

2.      Genus Egregia

Tumbuhan muda memiliki kemiripan dengan Alariaceae dimana lembaran terminal dan lateral  muncul dar daerah transisi. Lembaran induk kemudian digantikan oleh sejumlah cabang-cabang yang dapat mencapai panjang 8 m. Gametofit dari genus ini sangat tererduksi dimana gametofit betina yang terbentuk dari satu atau dua sel dan gametofit jantannya terbentuk dari dua hingga empat sel vegetative yang menghasilkan sejumlah anteridia.

Contoh Egregia menziesii

3.      Genus Eisenia

Eisenia dewasa memiliki suatu tangkai (stipe) yang tegak lurus, berkayu dan  dilekatkan ke substrat oleh sejumlah besar hapterous.

Contoh Eisenia arborea

B. Ordo Fucales

1. Ciri-ciri Umum

Ciri-ciri umum dari ordo Fucales meliputi :

a.       Ganggang ini banyak ditemukan hidup di air laut maupun air tawar dari daerah tropis hingga daerah dingin

b.      Hidup melekat pada bebatuan dengan pelekat berbentuk cakram.

c.       Fucus yang sudah berumur beberapa tahun mempunyai talus berbentuk pita yang di tengah-tengahnya diperkuat oleh rusuk tengah.

d.      Talus bercabang-cabang, bentuknya kaku dan keras seperti kulit.

Serta  pada ujungnya membesar membentuk konseptakel

e.       Tidak mengalami pergiliran keturunan

f.       Tidak mengalami perkembangbiakan secara vegetative

g.      Perkembangiakan secara generative dengan oogami

 

2. Reproduksi

Sebagai mana yang telah disebutkan dalam ciri-ciri umum, ordo Fucales tidak memiliki bentuk perkembangbiakan secara vegetative. Adapun perkembangbiakan secara generative dilakukan dengan oogami. Fucales memiliki reseptakel yang terdapat pada ujung cabang-cabang talus. Di dalam reseptakel tersebut terdapat oogonium, anteridium, dan benang-benang mandul (parafisis).

Anteridium berupa sel-sel berbentuk jorong, duduk rapat satu sama lain pada benang-benang yang pendek yang bercabang-cabang. Tiap anteridium menghasilkan 64 spermatozoid. Spermatozoid mengandung bahan inti, bintik mata, dan dua bulu cambuk pada kedua sisinya. Biulu cambuk yang pendek menghadap ke muka dan mempunyai rambut-rambbut yang mengkilat.

Oogonium  berupa suatu badan yang duduk di atas tangkai, terdiri atas satu sel saja, dan mengandung 8 sel telur. Dalam fertilisasi, hanyan sekitar 40% dari sel telur yang dibuahi dan pada tiap 100.000 spermatozoid, hanya 1-2 saja yang dapat melakukan fertilisasi. Zigot yang terbentuk memiliki dinding selulosa dan pectin, melekat pada suatu substrat dan tumbuh menjadi individu yang baru.

 

3. Klasifikasi

 

Sebagaimana halnya ordo Laminariales. Ordo Fucales juga termasuk dalam divisi Phaeophyta pada kelas Phaeophyceae. Sistematika dari  ordo Fucales menurut H.C. Bold dan Michael J. Wynne (1985) adalah sebagai berikut.

a. Famili Fucaceae

Famili ini memiliki sejumlah genus, diantaranya yang umum dikenal adalah sebagai berikut.

1.    Genus Fucus

Tubuh Fucus memiliki sejenis tangkai lentur yang mana darinya akan muncul sejumlah cabang. Kadang-kadang memiliki sejumlah kantung udara.

Contoh Fucus vesiculosus

2.    Genus Ascophyllum

Ascophyllum memiliki lembaran-lembaran tubuh yang linear yang dilekatkan pada substrat oleh suatu lempeng dasar. Cabang-cabang muncul secara dikotomi.

Contoh Ascophyllum nodossum

3.      Genus Pelvetia

Pelvetia memiliki habitat utama pada perairan di belahan bumi utara. Alga ini berupa tumbuhan menahun yang tahan kekeringan dalam waktu lama. Tubuh utama bercabang-cabang secra dikotomi serta memiliki reseptakel. Alga ini bersifat monoesius.

b. Famili Sargassaceae

Famili ini memiliki satu genus yang umum, yakni Sargassum. Contoh spesiesnya adalah Sargassum filipendula.

c. Famili Cystoseiraceae

 

Famili Cystoseiraceae mencakup 16 buah genus yang mirip dengan Sargassaceae, tetapi berbeda dalam hal tidak adanya bagian yang mirip daun pada ujung cabang, Karakateristik yang lain adalah keberadaan suatu sel apical tunggal pada tiap pucuk yang membentuk tiga sisi dalam irisan melintang dan pada tiap oogonium hanya menghasilkan satu sel telur.

Famili ini mencakup beberapa genus, diantaranya adalah Genus Cystoseira. Contoh spesiesnya adalah Cystoseira osmundaceae

d. Famili Homosiraceae

Famili Homosiraceae memiliki satu genus, yakni Hormosira. Homosiraceae memiliki habitat pada perairan di belahan bumi selatan. Alga ini ditemukan di Australia dan Selandia baru yang berbentuk seperti untaian kalung atau tasbih. Ganggang ini dapat berwujud kecil hingga mencapai panjang 1 meter dengan tipe percabangan dikotom. Alga ini bersifat diesius dan pada tiap oogonium menghasilkan empat sel telur. Contoh spesiesnya adalah Hormosira branksii

 

Gambar 9. Hormosira branksii

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan terhadap berbagai penelusuran literature, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

1.    Ciri-ciri umum dari ordo Laminariales meliputi : Habitat umumnya pada lautan beriklim dingin; Sporofit yang dapat dibagi menjadi alat pelekat, tangkai dan helaian atau lembaran; Pertumbuhan terjadi pada bagian yang meristematik yang letaknya interkalar; Sporofit mempunyai sporangia yang unilokuter dan terkumpul dalam suatu sorus pada permukaan lembaran; dan Gametofitnya berupa filamen yang mikroskopik dan bersifat diesius.

2.    Ciri-ciri umum dari ordo Fucales meliputi : habitat di air laut maupun air tawar dari daerah tropis hingga daerah dingin; mempunyai talus berbentuk pita yang di tengah-tengahnya diperkuat oleh rusuk tengah,  bercabang-cabang, bentuknya kaku dan keras seperti kulit Serta  pada ujungnya membesar membentuk konseptakel; Tidak mengalami pergiliran keturunan dan Tidak mengalami perkembangbiakan secara vegetative

3.    Perkembangbiakan vegetative pada Laminariales berupa zoospore dan perkembangbiakan generatifnya berupa oogami sedangkan pada Fucales tidak mengalami  perkembangbiakan secara  vegetative dan perkembangbiakan generatifnya juga dengan oogami.

4.    Laminariales memiliki 4 famili, yakni Chordaceae, laminariaceae, Lessoniaceae dan Alariaceae; Fucales juga memiliki empat family, yakni Fucaceae, Sargassaceae, Cystoseiraceae dan Hormosiraceae

5.    Contoh spesies dari ordo Laminariales meliputi Chorda filum, Laminaria saccharina, Alaria esculenta, Nerocystis luetkena dan Egregia menziesii; Contoh spesies dari ordo Fucales adalah Fucus vesiculosus, Sargassum filipendula, Hormosira banksii dan Cystoseira osmundacea

 

DAFTAR PUSTAKA

Bold, H.C., dan Wynne, M.J., 1985. Introduction to the Algae. Prentice-Hall.    New Jersey

 

Tjitrosoepomo, G., 2005. Taksonomi Tumbuhan: Schyzophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pterydophyta. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

 

http://pt-lobos.com/algae.html

http://www.biologionline.com

http://www.flickr.com/photos/clarasbell/3029703991/

http://www.fotosearch.com

http://www.oceanlink.info/biodiversity/seaweeds/Phaeophyta.html

http://www.ohio.edu/plantbio/vislab/algaeimage/pages/laminaria.html

http://www.seaweedsofalaska.com/species.asp?SeaweedID=28

http://www.theseashore.org.uk/theseashore/SpeciesPages/Bladderwrack%20French.jpg.html

http://www.ubcbotanicalgarden.org/potd/2010/02/egregia_menziesii.php

Tentang biologymayscience

i was born in Muna at March 26, 1990. i'm a biology student at Haluoleo University Kendari.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s