Pengertian dan Ciri-ciri Belajar

Pengertian belajar yang diberikan oleh para ahli sangat beragam. Hal ini ditentukan oleh disiplin ilmu mereka masing-masing dan filsafat yang menjadi dasar pemikiran mereka. Berikut defenisi belajar yang diberikan oleh para ahli.
1. Pengertian Belajar Menurut Para Ahli dalam Negeri
Thursan Hakim menyatakan bahwa  belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan.
Menurut Slameto, belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Ngalim Purwanto, (1992 : 84) mengemukakan belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman
Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
M. Sobry Sutikno mengemukakan, belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
2. Pengertian Belajar menurut Para Ahli Luar Negeri
Menurut Skinner yang di kutip oleh Dimyati dan Mudjiono dalam bukunya yang berjudul Belajar dan pembelajaran, bahwa belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respons yang tercipta melalui proses tingkah laku.
Gagne seperti yang di kutip oleh Slameto dalam bukunya Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya, memberikan dua definisi belajar, yaitu:
1. Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.
2. Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.
Menurut Hilgard dan Bower dalam bukunya Theories of Learning yang dikutip oleh Ngalim Purwanto, belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam suatu situasi.
Robert. M. Gagne dalam bukunya : The Conditioning of learning mengemukakan bahwa : Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth ; Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan, bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalam diri dan keduanya saling berinteraksi. Dalam teori psikologi konsep belajar Gagne ini dinamakan perpaduan antara aliran behaviorisme dan aliran instrumentalisme.
Cronbach (1954) berpendapat : Learning is shown by a change in behaviour as result of experience ; belajar dapat dilakukan secara baik dengan jalan mengalami.
Menurut Spears : Learning is to observe, to read, to imited, to try something themselves, to listen, to follow direction ; pengalaman dapat diperoleh dengan menggunakan panca indra.
Lester.D. Crow and Alice Crow mendefinisikan : Learning is the acuquisition of habits, knowledge and attitudes ; Belajar adalah upaya untuk memperoleh kebiasaankebiasaan, pengetahuan dan sikap-sikap.
Hudgins Cs. (1982) berpendapat tentang Hakekat belajar secara tradisional. Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dalam tingkah laku, yang mengakibatkan adanya pengalaman .
Jung , (1968) mendefinisikan bahwa belajar adalah suatu proses dimana tingkah laku dari suatu organisme dimodifikasi oleh pengalaman.
Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
Menurut Skinner ( 1985 ) memberikan definisi belajar adalah “Learning is a process of progressive behavior adaption”. Yaitu bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif.
Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.
Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”
Menurut Mc. Beach ( Lih Bugelski 1956 ) memberikan definisi mengenai belajar. “Learning is a change performance as a result of practice”. Ini berarti bahwa bahwa belajar membawa perubahan dalam performance dan perubahan itu sebagai akibat dari latihan ( practice ).
Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.
Menurut Morgan, dkk ( 1984 ) memberikan definisi mengenai belajar “Learning can be defined as any relatively permanent change in behavior which accurs as a result of practice or experience.” Yaitu bahwa perubahan perilaku itu sebagai akibat belajar karena latihan ( practice )atau karena pengalaman ( experience)
Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman”
Dalam bukunya Walker “Conditioning and instrumental learning” ( 1967 ). Belajar adalah perubahan perbuatan sebagai akibat dari pengalaman. Perubahan orang dapat memperoleh, baik kebiasaan – kebiasaan yang buruk maupun kebiasaan yang baik.
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disintesiskan bahwa belajar adalah perubahan serta peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diberbagai bidang yang terjadi akibat melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungannya.
B. Ciri-ciri Belajar
Syaifull Bahri Djamarah, memukakan ciri-ciri belajar  sebagai berikut :
  1. Perubahan yang terjadi secara sadar.
  2. Perubahan dalam belajar yang bersifat fungsional.
  3. Perubahan dalam belajar yang bersifat positif dan aktif.
  4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
  5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
  6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :
1.Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.
2.Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.
3.Perubahan yang fungsional
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.
4. Perubahan yang bersifat positif.
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru
5. Perubahan yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.
6. Perubahan yang bersifat pemanen.
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.
7. Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
8. Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”.
Belajar  juga  tidak hanya berkenaan dengan jumlah pengetahuan tetapi juga meliputi seluruh kemampuan individu. Dengan  demikian, maka  ciri-ciri belajar juga dapat dirumuskan sebagai berikut.
  1. belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengetahuan atau kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor).
  2. perubahan itu harus merupakan buah dari pengalaman. Perubahan prilaku yang terjadi pada diri individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan. Interaksi ini dapat berupa interaksi fisik. Misalnya, seorang anak akan mengetahui bahwa api itu panas setelah ia menyentuh api yang menyala pada lilin. Di samping melalui interaksi fisik, perubahan kemampuan tersebut dapat diperoleh melalui interaksi psikis. Contohnya, seorang anak akan berhati-hati menyeberang jalan setelah ia melihat ada orang yang tertabrak kendaraan. Perubahan kemampuan tersebut terbentuk karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya. Mengedipkan mata pada saat memandang cahaya yang menyilaukan atau keluar air liur pada saat mencium harumnya masakan bukan meruapakan hasil belajar. Di samping itu, perubahan prilaku karena faktor kematangan tidak termasuk belajar. Seorang anak tidak dapat belajar berbicara sampai cukup umurnya. Tetapi perkembangan kemampuan berbicaranya sangat tergantung pada rangsangan dari lingkungan sekitar. Begitu juga dengan kemampuan belajar.
  3. perubahan tersebut relatif tetap. Perubahan perilaku akibat obat-obatan, minuman keras, dan yang lainnya tidak dapat dikategorikan sebagai perilaku hasil belajar. Seorang atlet yang dapat melakukan lompat galah melebihi rekor orang lain karena minum obat tidak dapat dikategorikan sebagai hasil belajar. Perubahan tersebut tidak bersifat menetap. Perubahan perilaku akibat belajar akan bersifat cukup permanen
 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Tumbuhan adalah organisme yang dicirikan dengan adanya dinding sel, pigmen fotosintetik dan sifat autotrofik serta immobil.  Secara garis besar, tumbuhan dibedakan menjadi tumbuhan tingkat rendah dan tumbuhan tingkat tinggi. Pembagian ini tidak mengacu secara spesifik kepada struktur tubuh dari tumbuhan tersebut, tetapi lebih mengacu pada perkembangbiakan ataureproduksinya. Tumbuhan tingkat rendah memiliki  organ dan cara perkembangbiakan yang lebih sederhana bila dibandingkan dengan pada tumbuhan tingkat tinggi.

Dalam tumbuhan tingkat rendah, kita mengenal kelompok Thalophyta yang mencakup Algae (ganggang). Thallopyta merupakan tumbuhan bertalus atau tumbuhan yang belum dapat dibedakan secara jelas antara akar, batang, dan daun. Secara umum, kita memandang keseluruhan tubuhnya sebagai talus.

Algae merupakan tumbuhan akuatik yang menghuni habitat air. Dalam system pengklasifikasian, Pembagian Algae dalam kelas-kelas tertentu didasarkan pada jenis pigmen  warna yang dikandungnya, sehingga kita dapat mengenal istilah |Chlorophyta (ganggang hijau), Rhodophyta (Ganggang merah), Phaeophyta (ganggang coklat) dan sebagainya. Dalam makalah ini, ruang lingkup pembahasan kami batasi pada kelas Phaeophyta, yakni pada Ordo Laminariales dan Fucales.

Laminariales dan Fucales adalah dua ordo dalam kelas Phaeophyta yang umum dikenal. Bahkan beberapa spesies dari kedua ordo ini memberikan peranan positif dalam kehidupan, baik terhadap ekosistem secara umum, maupun bagi kehidupan manusia.

Berdasarkan uraian tersebut, maka dianggap perlu untuk menyusun makalah mengenai ordo Laminariales dan Fucales. Makalah ini diharapkan dapat menjadi tambahan pengetahuan mengenai kedua ordo tersebut sehingga diharapkan mahasiswa dapat mendeskripsikan kedua ordo tersebut secara jelas.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut, maka permasalahan yang akan dikaji dalam makalah in makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

1. Bagaimana ciri-ciri umum dari ordo Laminariales dan Fucales ?

2. Bagaimana cara reproduksi pada ordo  Laminariales dan Fucales?

3. Bagaimana pengklasifikasian dari ordo Laminariales dan Fucales?

4. Apa contoh spesies dari ordo Laminariales dan Fucales?

 

C. Tujuan

Tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui cirri-ciri umum dari ordo Laminariales dan Fucales

2. Untuk mengetahui reproduksi pada ordo  Laminariales dan Fucales.

3. Untuk mengetahui pengklasifikasian dari ordo Laminariales dan Fucales.

4. Untuk mengetahui contoh spesies dari ordo Laminariales dan Fucales.

 

D. Manfaat

Manfaat yang dapat dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Mahasiswa dapat mendeskripsikan ordo Laminariales dan Fucales, baik dari segi ciri umum, reproduksi, klasifikasi, maupun contoh spesiesnya.

2. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh nilai mata kuliah Botani Tumbuhan Rendah

 

 

BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN

A. Ordo Laminariales

1. Ciri-ciri Umum

 

Laminariales adalah salah satu diantara tiga belas ordo dalam divisi Phaeophyta. Ciri-ciri umum dari ordo ini adalah sebagai berikut.

a. Habitat umumnya pada lautan beriklim dingin

b. Sporofit yang dapat dibagi menjadi alat pelekat, tangkai dan helaian atau lembaran.

c. Pertumbuhan terjadi pada bagian yang meristematik yang letaknya interkalar dan biasanya terletak diantara tangkai dan lembaran.

d. Sporofit mempunyai sporangia yang unilokuter dan terkumpul dalam suatu sorus pada permukaan lembaran.

e. Gametofit dari laminariales berupa filamen yang mikroskopik dan bersifat diesius.

f. Perkembangbiakan seksual bersifat oogamik.

2. Reproduksi

Reproduksi seksual pada Laminariales dilakukan secara oogami. Oogami adalah suatu bentuk perkembangbiakan dimana gamet jantan dan betina memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda dengan gamet jantan yang aktif. Laminariale memiliki gametifit yang diesius.

Pada Laminariales ditemukan adanya pergiliran keturuna yang beraturan. Sporofit yang besar dan bersifat diploid berganti dengan gametofit jantan dan betina yang telah memperlihatkan perbedaan bentuk dan susunan. Gametofit yang dhasilkan tersebut berasal dari zoospore. Gametofit jantan bercabang-cabang lebih banyak, cepat tumbuh dan terdiri atas banyak sel dan pada ujungnya terdapat anteridium yang hanya terdiri atas satu sel, masing-masing mengeluarkan dua spermatozoid yang mempunyai dua bulu cambuk.

Gametofit betina terdiri atassel-sel yang besar, tumbuhnya lambat, tidak mempunyai bamnyak sel dan dalam keadaan luar biasa hanya terdiri atas satu  sel berbentuk pipa dan menghasilkan oogonium yang mempaunyai satu sel saja. Sel telur yang telanjang tersebut keluar dari ujung oogonium dan tetap melekat pada tempat tersebut. Zigot hasil perkawinan tumbuh menjadi sporofit. Pada permukaan sporofit selain terdapat sel-sel mandul juga terdapat sporangium yang menghasilkan banyak zoospore dengan dua bulu cambuk.

Untuk lebih jelasnya pergiliran keturunan pada Laminariales dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 1. Daur hidup Laminaria japonica

3. Klasifikasi

Dalam sistem klasifikasi, Laminariales termasuk dalam divisi Phaeophyta yang hanya memiliki satu kelas, yakni  kelas Phaeophyceae. Phaeophyceae kemudian memiliki tiga belas ordo dan salah satunya adalah ordo Laminariales. Sistematik dari ordo Laminariales bagaimana yang dikemukakan oleh H.C.Bold dan M.J. Wynne (1985) sebagai berikut.

a. Familia Chordaceae

Famili Chordaceae hanya memiliki satu genus, yakni genus Chorda. Tubuh Alga yang termasuk dalam genus Chorda tidak memiliki cabang, berbentuk silinder dan dapat mencapai panjang hingga 8 sampai 12 meter. Chorda hidup di perairan dingin Atlantik utara, pasifik utara, laut Arktik dan laut Bering. Contoh spesies dari family ini adalah Chorda filum.

Gambar 2. Chorda filum

b. Familia Laminariaceae

Famili ini memiliki sejumlah genus, diantaranya adalah :

1. Genus Laminaria

Laminaria ditemukan pada perairan litoral hingga sublitoral hingga pantai karang. Contoh Laminaria saccharina

2. Genus Hedophyllum

Hedeophyllum memiliki daerah penyebaran dari perairan Alaska hingga utara California. Alga ini hidup melekat pada substrat dengan menggunakan haptera. Contoh Hedophyllum sessile

3. Genus Agarum

Agarum memiliki tulang atau urat median melintang, adanya lubang-lubang pada sisi helaian dan helaian yang tak terbagi membedakan genus ini dengan genus lain dalam family Laminariaceae. Contoh Agarum cribrosum

4. Genus Costaria

Ciri utama dari Costaria adalah adanya lima buah urat longitudinal pada helaian Alga ini. Contoh Costaria costata

Gambar 3. Laminaria saccharina, Hedophyllum sessile, Agarum cribrosum, dan Costaria costata

c. Familia Lessoniaceae

Famili Lessoniaceae juga mempunyai sejumlah genus. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Genus Postelsia

Jika dipandang pada tiap-tiap individu, Postelsia memiliki bentuk yang mirip pohon kelapa. Sejumlah besar helaian yang menyatu pada pangkalnya membentuk haptera yang melekatkan Alga ini pada substrat.

Contoh Postelsia palmaeformis

2. Genus Nereocystis

Nereoscystis memiliki bentuk yang mirip dengan Laminaria ketika muda. Namun, seiring dengan perkembangannya, terjadi pembagian helaian-helaian dan juga modifikasi tangkai (stipe). Tangkai dapat mencapai panjang hingga 25-30 meter serta memiliki pneumokist pada ujungnya.

Contoh Nereocystis luetkeana

3. Genus Macrocystis

Macrocystis (Macro = besar; kystis=helaian) merupakan Tumbuhan menahun yang memungkinkan adanya  regenerasi dari stipes tambahan. Dengan demikian akan muncul sejumlah besar lemabaran-lembaran yang berasal dari lembaran tunggal.

Contoh Macrocystis integrifolia

Gambar 4. Postelsia palmaeformis, Nereocystis luetkeana, dan Macrocystis pyrifera

d. Familia Alariaceae

Beberapa genus dari family Alariaceae meliputi :

1. Genus Alaria

Alaria memiliki semacam tulang daun yang menyolok pada tengah lembara- tubuhnya yang memanjang dari pangkal hingga ujung lembaran. Pada perairan dingin, Alaria dapat membentuk lembaran hingga 25 m panjangnya.

Contoh Alaria esculenta dan Alaria crassifolia

2. Genus Egregia

Tumbuhan muda memiliki kemiripan dengan Alariaceae dimana lembaran terminal dan lateral  muncul dar daerah transisi. Lembaran induk kemudian digantikan oleh sejumlah cabang-cabang yang dapat mencapai panjang 8 m. Gametofit dari genus ini sangat tererduksi dimana gametofit betina yang terbentuk dari satu atau dua sel dan gametofit jantannya terbentuk dari dua hingga empat sel vegetative yang menghasilkan sejumlah anteridia.

Contoh Egregia menziesii

3. Genus Eisenia

Eisenia dewasa memiliki suatu tangkai (stipe) yang tegak lurus, berkayu dan  dilekatkan ke substrat oleh sejumlah besar hapterous.

Contoh Eisenia arborea

Gambar 5. Alaria esculenta, Egregia menziesii, dan Eisenia arborea

B. Ordo Fucales

1. Ciri-ciri Umum

Ciri-ciri umum dari ordo Fucales meliputi :

a. Ganggang ini banyak ditemukan hidup di air laut maupun air tawar dari daerah tropis hingga daerah dingin

b. Hidup melekat pada bebatuan dengan pelekat berbentuk cakram.

c. Fucus yang sudah berumur beberapa tahun mempunyai talus berbentuk pita yang di tengah-tengahnya diperkuat oleh rusuk tengah.

d. Talus bercabang-cabang, bentuknya kaku dan keras seperti kulit.

Serta  pada ujungnya membesar membentuk konseptakel

e. Tidak mengalami pergiliran keturunan

f. Tidak mengalami perkembangbiakan secara vegetative

g. Perkembangiakan secara generative dengan oogami

 

2. Reproduksi

Sebagai mana yang telah disebutkan dalam ciri-ciri umum, ordo Fucales tidak memiliki bentuk perkembangbiakan secara vegetative. Adapun perkembangbiakan secara generative dilakukan dengan oogami. Fucales memiliki reseptakel yang terdapat pada ujung cabang-cabang talus. Di dalam reseptakel tersebut terdapat oogonium, anteridium, dan benang-benang mandul (parafisis).

Anteridium berupa sel-sel berbentuk jorong, duduk rapat satu sama lain pada benang-benang yang pendek yang bercabang-cabang. Tiap anteridium menghasilkan 64 spermatozoid. Spermatozoid mengandung bahan inti, bintik mata, dan dua bulu cambuk pada kedua sisinya. Biulu cambuk yang pendek menghadap ke muka dan mempunyai rambut-rambbut yang mengkilat.

Oogonium  berupa suatu badan yang duduk di atas tangkai, terdiri atas satu sel saja, dan mengandung 8 sel telur. Dalam fertilisasi, hanyan sekitar 40% dari sel telur yang dibuahi dan pada tiap 100.000 spermatozoid, hanya 1-2 saja yang dapat melakukan fertilisasi. Zigot yang terbentuk memiliki dinding selulosa dan pectin, melekat pada suatu substrat dan tumbuh menjadi individu yang baru.

 

3. Klasifikasi

 

Sebagaimana halnya ordo Laminariales. Ordo Fucales juga termasuk dalam divisi Phaeophyta pada kelas Phaeophyceae. Sistematika dari  ordo Fucales menurut H.C. Bold dan Michael J. Wynne (1985) adalah sebagai berikut.

a. Famili Fucaceae

Famili ini memiliki sejumlah genus, diantaranya yang umum dikenal adalah sebagai berikut.

1. Genus Fucus

Tubuh Fucus memiliki sejenis tangkai lentur yang mana darinya akan muncul sejumlah cabang. Kadang-kadang memiliki sejumlah kantung udara.

Contoh Fucus vesiculosus

2. Genus Ascophyllum

Ascophyllum memiliki lembaran-lembaran tubuh yang linear yang dilekatkan pada substrat oleh suatu lempeng dasar. Cabang-cabang muncul secara dikotomi.

Contoh Ascophyllum nodossum

3. Genus Pelvetia

Pelvetia memiliki habitat utama pada perairan di belahan bumi utara. Alga ini berupa tumbuhan menahun yang tahan kekeringan dalam waktu lama. Tubuh utama bercabang-cabang secra dikotomi serta memiliki reseptakel. Alga ini bersifat monoesius.

Contoh Pelvetia canaliculata

Gambar 6. Fucus vesiculosus, Ascophyllum nodossum dan Pelvetia canaliculata

b. Famili Sargassaceae

Famili ini memiliki satu genus yang umum, yakni Sargassum. Contoh spesiesnya adalah Sargassum filipendula.

Gambar 7. Sargassum filipendula

c. Famili Cystoseiraceae

 

Famili Cystoseiraceae mencakup 16 buah genus yang mirip dengan Sargassaceae, tetapi berbeda dalam hal tidak adanya bagian yang mirip daun pada ujung cabang, Karakateristik yang lain adalah keberadaan suatu sel apical tunggal pada tiap pucuk yang membentuk tiga sisi dalam irisan melintang dan pada tiap oogonium hanya menghasilkan satu sel telur.

Famili ini mencakup beberapa genus, diantaranya adalah Genus Cystoseira. Contoh spesiesnya adalah Cystoseira osmundaceae

Gambar 8. Cystoseira osmundaceae

d. Famili Homosiraceae

Famili Homosiraceae memiliki satu genus, yakni Hormosira. Homosiraceae memiliki habitat pada perairan di belahan bumi selatan. Alga ini ditemukan di Australia dan Selandia baru yang berbentuk seperti untaian kalung atau tasbih. Ganggang ini dapat berwujud kecil hingga mencapai panjang 1 meter dengan tipe percabangan dikotom. Alga ini bersifat diesius dan pada tiap oogonium menghasilkan empat sel telur. Contoh spesiesnya adalah Hormosira branksii

Gambar 9. Hormosira branksii

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan terhadap berbagai penelusuran literature, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Ciri-ciri umum dari ordo Laminariales meliputi : Habitat umumnya pada lautan beriklim dingin; Sporofit yang dapat dibagi menjadi alat pelekat, tangkai dan helaian atau lembaran; Pertumbuhan terjadi pada bagian yang meristematik yang letaknya interkalar; Sporofit mempunyai sporangia yang unilokuter dan terkumpul dalam suatu sorus pada permukaan lembaran; dan Gametofitnya berupa filamen yang mikroskopik dan bersifat diesius.

2. Ciri-ciri umum dari ordo Fucales meliputi : habitat di air laut maupun air tawar dari daerah tropis hingga daerah dingin; mempunyai talus berbentuk pita yang di tengah-tengahnya diperkuat oleh rusuk tengah,  bercabang-cabang, bentuknya kaku dan keras seperti kulit Serta  pada ujungnya membesar membentuk konseptakel; Tidak mengalami pergiliran keturunan dan Tidak mengalami perkembangbiakan secara vegetative

3. Perkembangbiakan vegetative pada Laminariales berupa zoospore dan perkembangbiakan generatifnya berupa oogami sedangkan pada Fucales tidak mengalami  perkembangbiakan secara  vegetative dan perkembangbiakan generatifnya juga dengan oogami.

4. Laminariales memiliki 4 famili, yakni Chordaceae, laminariaceae, Lessoniaceae dan Alariaceae; Fucales juga memiliki empat family, yakni Fucaceae, Sargassaceae, Cystoseiraceae dan Hormosiraceae

5. Contoh spesies dari ordo Laminariales meliputi Chorda filum, Laminaria saccharina, Alaria esculenta, Nerocystis luetkena dan Egregia menziesii; Contoh spesies dari ordo Fucales adalah Fucus vesiculosus, Sargassum filipendula, Hormosira banksii dan Cystoseira osmundacea

 

B. Saran

Saran yang kami berikan dalam makalah ini adalah sebaiknya makalah yang telah diperiksa dikembalikan agar kami dapat mengevaluasi kesalahan-kesalahan yang ada dan mengambil pelajaran untuk kesempurnaan selanjutnya. Oleh karena itu, kritik dan saran dosen pembimbing sangat kami perlukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bold, H.C., dan Wynne, M.J., 1985. Introduction to the Algae. Prentice-Hall.    New Jersey

 

Tjitrosoepomo, G., 2005. Taksonomi Tumbuhan: Schyzophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pterydophyta. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

 

http://pt-lobos.com/algae.html

http://www.biologionline.com

http://www.flickr.com/photos/clarasbell/3029703991/

http://www.fotosearch.com

http://www.oceanlink.info/biodiversity/seaweeds/Phaeophyta.html

http://www.ohio.edu/plantbio/vislab/algaeimage/pages/laminaria.html

http://www.seaweedsofalaska.com/species.asp?SeaweedID=28

http://www.theseashore.org.uk/theseashore/SpeciesPages/Bladderwrack%20French.jpg.html

http://www.ubcbotanicalgarden.org/potd/2010/02/egregia_menziesii.php

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

Pertama-tama tiada kata yang indah yang patut penyusun ucapkan mengawali tulisann ini selain ucapan puji dan syukur kepada Allah SWT karena penyusun menyadari makalah ini dapat diselesaikan tiada lain karena rahmat dan karunia-Nya semata. Ucapan terima kasih sdan penghargaan yang tulus penyusun juga sampaikan kepada semua pihak yang telah berperan dalam membantu penyusunan makalh ini, khususnya Ibu Lili Darlian, S.Si., M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan-arahan dalam penyusunan makalah ini.

Makalah ini kami susun untuk memberikan gambaran mengenai ordo Laminariales dan Fucales, baik dari segi ciri umum, system reproduksi, klasifikasi hingga contoh spesiesnya. Penyusun berharap makalah yang sederhana ini dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi pembaca, khusunya bagi penyusun sendiri.

Akhir kata, penyusun menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika dalam penyusunan makalh ini terdapat kekeliruan atau ada kata yang tidak yang berkenan di hati pembaca. Penyusun menyadari sebagai manusia biasa tentu tidak akan terlepas dari kesalahan sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan.

Kendari, 16 Februari 2011

 

 

Penyusun

 

 

 

 

 

 

ii

 

 

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Sampul…………………………………………………………     i

Kata Pengantar…………………………………………………………….  ii

Daftar Isi…………………………………………………………………..   iii

Bab I Pendahuluan………………………………………………………… 1

A. Latar Belakang……………………………………………………… 1

B. Rumusan Masalah………………………………………………….. 2

C. Tujuan……………………………………………………………… 2

D. Manfaat…………………………………………………………….. 2

Bab II Isi dan Pembahasan………………………………………………… 3

A. Ordo Laminariales………………………………………………..    3

1. Ciri-ciri Umum……………………………………………….     3

2. Reproduksi……………………………………………………    3

3. Klasifikasi………………………………………………             5

B. Ordo Fucales………………………………………………………   9

1. Ciri-ciri Umum……………………………………………….     9

2. Reproduksi……………………………………………………    9

3. Klasifikasi……………………………………………………..   10

Bab III Penutup……………………………………………………………  13

A. Kesimpulan………………………………………………………… 13

B. Saran ………………………………………………………………  14

Daftar Pustaka

 

 

 

 

 

iii

 

 

Makalah :

BOTANI TUMBUHAN RENDAHORDO LAMINARIALES DAN FUCALES

 

 

 

OLEH ;

KELOMPOK VI

LA ODE IMBA                           (A1C2 09 065)

HASRAHNIAN HASNAN        (A1C2 09 045)

AISA                                            (A1C2 09 006)

ISMIATI KARI                           (A1C2 09 033)

DEPI PURWASI                                     (A1C2 09 079)

SOFYAN                                                 (A1C2 08 053)

FAKULTAS KEGURAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS HALUOLEO

Pengertian belajar yang diberikan oleh para ahli sangat beragam. Hal ini ditentukan oleh disiplin ilmu mereka masing-masing dan filsafat yang menjadi dasar pemikiran mereka. Berikut defenisi belajar yang diberikan oleh para ahli.
1. Pengertian Belajar Menurut Para Ahli dalam Negeri
Thursan Hakim menyatakan bahwa  belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan.
Menurut Slameto, belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Ngalim Purwanto, (1992 : 84) mengemukakan belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman
Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
M. Sobry Sutikno mengemukakan, belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
2. Pengertian Belajar menurut Para Ahli Luar Negeri
Menurut Skinner yang di kutip oleh Dimyati dan Mudjiono dalam bukunya yang berjudul Belajar dan pembelajaran, bahwa belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respons yang tercipta melalui proses tingkah laku.
Gagne seperti yang di kutip oleh Slameto dalam bukunya Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya, memberikan dua definisi belajar, yaitu:
1. Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.
2. Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.
Menurut Hilgard dan Bower dalam bukunya Theories of Learning yang dikutip oleh Ngalim Purwanto, belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam suatu situasi.
Robert. M. Gagne dalam bukunya : The Conditioning of learning mengemukakan bahwa : Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth ; Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan, bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalam diri dan keduanya saling berinteraksi. Dalam teori psikologi konsep belajar Gagne ini dinamakan perpaduan antara aliran behaviorisme dan aliran instrumentalisme.
Cronbach (1954) berpendapat : Learning is shown by a change in behaviour as result of experience ; belajar dapat dilakukan secara baik dengan jalan mengalami.
Menurut Spears : Learning is to observe, to read, to imited, to try something themselves, to listen, to follow direction ; pengalaman dapat diperoleh dengan menggunakan panca indra.
Lester.D. Crow and Alice Crow mendefinisikan : Learning is the acuquisition of habits, knowledge and attitudes ; Belajar adalah upaya untuk memperoleh kebiasaankebiasaan, pengetahuan dan sikap-sikap.
Hudgins Cs. (1982) berpendapat tentang Hakekat belajar secara tradisional. Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dalam tingkah laku, yang mengakibatkan adanya pengalaman .
Jung , (1968) mendefinisikan bahwa belajar adalah suatu proses dimana tingkah laku dari suatu organisme dimodifikasi oleh pengalaman.
Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
Menurut Skinner ( 1985 ) memberikan definisi belajar adalah “Learning is a process of progressive behavior adaption”. Yaitu bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif.
Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.
Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”
Menurut Mc. Beach ( Lih Bugelski 1956 ) memberikan definisi mengenai belajar. “Learning is a change performance as a result of practice”. Ini berarti bahwa bahwa belajar membawa perubahan dalam performance dan perubahan itu sebagai akibat dari latihan ( practice ).
Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.
Menurut Morgan, dkk ( 1984 ) memberikan definisi mengenai belajar “Learning can be defined as any relatively permanent change in behavior which accurs as a result of practice or experience.” Yaitu bahwa perubahan perilaku itu sebagai akibat belajar karena latihan ( practice )atau karena pengalaman ( experience)
Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman”
Dalam bukunya Walker “Conditioning and instrumental learning” ( 1967 ). Belajar adalah perubahan perbuatan sebagai akibat dari pengalaman. Perubahan orang dapat memperoleh, baik kebiasaan – kebiasaan yang buruk maupun kebiasaan yang baik.
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disintesiskan bahwa belajar adalah perubahan serta peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diberbagai bidang yang terjadi akibat melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungannya.
B. Ciri-ciri Belajar
Syaifull Bahri Djamarah, memukakan ciri-ciri belajar  sebagai berikut :
  1. Perubahan yang terjadi secara sadar.
  2. Perubahan dalam belajar yang bersifat fungsional.
  3. Perubahan dalam belajar yang bersifat positif dan aktif.
  4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
  5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
  6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :
1.Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.
2.Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.
3.Perubahan yang fungsional
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.
4. Perubahan yang bersifat positif.
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru
5. Perubahan yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.
6. Perubahan yang bersifat pemanen.
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.
7. Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
8. Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”.
Belajar  juga  tidak hanya berkenaan dengan jumlah pengetahuan tetapi juga meliputi seluruh kemampuan individu. Dengan  demikian, maka  ciri-ciri belajar juga dapat dirumuskan sebagai berikut.
  1. belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengetahuan atau kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor).
  2. perubahan itu harus merupakan buah dari pengalaman. Perubahan prilaku yang terjadi pada diri individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan. Interaksi ini dapat berupa interaksi fisik. Misalnya, seorang anak akan mengetahui bahwa api itu panas setelah ia menyentuh api yang menyala pada lilin. Di samping melalui interaksi fisik, perubahan kemampuan tersebut dapat diperoleh melalui interaksi psikis. Contohnya, seorang anak akan berhati-hati menyeberang jalan setelah ia melihat ada orang yang tertabrak kendaraan. Perubahan kemampuan tersebut terbentuk karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya. Mengedipkan mata pada saat memandang cahaya yang menyilaukan atau keluar air liur pada saat mencium harumnya masakan bukan meruapakan hasil belajar. Di samping itu, perubahan prilaku karena faktor kematangan tidak termasuk belajar. Seorang anak tidak dapat belajar berbicara sampai cukup umurnya. Tetapi perkembangan kemampuan berbicaranya sangat tergantung pada rangsangan dari lingkungan sekitar. Begitu juga dengan kemampuan belajar.
  3. perubahan tersebut relatif tetap. Perubahan perilaku akibat obat-obatan, minuman keras, dan yang lainnya tidak dapat dikategorikan sebagai perilaku hasil belajar. Seorang atlet yang dapat melakukan lompat galah melebihi rekor orang lain karena minum obat tidak dapat dikategorikan sebagai hasil belajar. Perubahan tersebut tidak bersifat menetap. Perubahan perilaku akibat belajar akan bersifat cukup permanen

KENDARI

2011

 

 

Tentang biologymayscience

i was born in Muna at March 26, 1990. i'm a biology student at Haluoleo University Kendari.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s